5 Puisi Cinta Untuk Seseorang yang Pergi

Judul buku: Tidak Ada New York Hari Ini
Penulis: M Aan Mansyur
Foto: Mo Riza
Tata letak: Emte
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2723-5
Cetakan pertama, 28 April 2016
120 halaman
Meskipun merupakan mahasiswa sastra, harus saya akui bahwa membaca puisi bukan sebuah hal yang sering saya lakukan. Saya sering melompat-lompati kata saat membaca puisi, jarang merasa hanyut, tapi kadang-kadang sangat suka menulis sajak #loh. Padahal nyatanya untuk bisa menulis, kita harus menjadi pembaca yang rakus, begitupun dengan puisi.
Untuk buku puisi sendiri, saya sangat jarang membeli. Satu-satunya sastrawan yang buku puisinya ada beberapa bertengger di rak hanya Remy Sylado. Namun, saat berkunjung ke Pasar Palasari Bandung kemarin, entah mengapa saya tiba-tiba ingin membeli buku Aan mansyur yang merupakan buku puisi untuk film Ada Apa Dengan Cinta 2 dengan judul Tidak Ada New York Hari Ini. Padahal saya beberapa kali bertemu dengan buku ini di bayak kesempatan. Saya membeli bukunya dan 5 puisi berikut ini ada dalam kumpulan buku puisi ini.
Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau melihat langit membentang lapang. Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku melihat nasib manusia. Terkutuk hidup di bumi bersama jangkauan lengan mereka yang pendek dan kemauan mereka yang panjang.

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung. Bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa. Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri.

Ketika ada yang bertanya tentang cinta, apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata atau cukup ketidaksempurnaan kita?

Di Halaman Belakang Puisi Ini

Puisi adalah pesta. Seperti ulang tahun atau pernikahan, tetapi benci perayaan. Ada beranda di halaman belakang buat setiap tamu yang datang. Aku biarkan orang-orang berbincang dan bersulang dengan diri sendiri.

Aku mungkin tidak berada di sana — aku sedang duduk menemani diriku di taman kota atau perpustakaan atau terjebak pesta berbeda dalam puisi yang belum dituliskan.

Aku mengundang kau juga. Datanglah. Masuklah. Tak ada kamera tersembunyi yang mengawasimu seperti di tiap sudut kota. Di puisiku hanya akan kau temukan tubuhmu jatuh ke lengan seseorang. Dia menciummu hingga kau lupa kau pernah merasa ditinggalkan.

Kau boleh membayangkan dia adalah aku atau siapa pun yang kau inginkan.

Akhirnya Kau Hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.

Suatu Pagi Musim Dingin

“someone I loved once gave me a box full of darkness. It took me years to understand that this too, was a gift.” –Mary Oliver

Semua benda bicara jika kau mau menyimak,
namun mereka mengatakan hal-hal yang tidak
mau kau dengarkan. Pecahan-pecahan dirimu
yang kau tolak.

kau hanya ingin berusaha mencintai hal-hal
yang tidak bisa mengingatkanmu pada harilalu
dan seseorang di kejauhan yang bersikeras
tidak hendak ditanggalkan

Tapi ada pagi ketika jari-jarimu memeluk gelas
kopi hangat, musim dingin meletakkan tangannya
di pundakmu. Kau dengar musik entah dari mana.
Alangkah sedih! Alangkah indah! Tiba-tiba
dari dalam dirimu ada laut bergolak hendak tumpah

Pertanyaan Tentang Rindu

Untuk menghibur diri, aku sering berjalan
sendiri menyusuri malam–dengan kedua
tangan selalu di saku celana. Kubayangkan
kau bertanya. Apakah kau takut kehilangan
atau sedang mencari sesuatu?

Kelak datang suatu pagi membawa jawaban
kepadamu. Ketika mandi, kau tiba-tiba menyadari.
sungguh sudah lama jari-jariku tidak menyentuh
tubuhmu.

 

Tulisan diikutkan dalam #tantangan5 #KMkepo

2 thoughts on “5 Puisi Cinta Untuk Seseorang yang Pergi

    1. Hahaha iyalah keren, yang tulis keren soalnya #bukansaya

      boleh.. boleh. Tapi jangan puisi perpisahan yah.. kan baru kenal hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *