Berbagi Nasi Yogyakarta (Jogja Part 2)

Salah satu hal yang membuat saya senang berkomunitas adalah berkenalan dengan orang-orang baru yang sama sekali asing. Hal ini menjadi keuntungan yang kebetulan kalau sedang keluar kota. Misalnya, saat ke Jakarta dan malang, saya dibantu teman-teman komunitas Berkebun di tempat tersebut. Nah kali ini, saya yang jalan-jalan ke Jogja dua minggu rasanya sayang sekali kalau cuma menghabiskan waktu untuk jalan kesana kemari. Kebetulan, saya, Pika dan Pio adalah anggota dari gerakan Berbagi Nasi Makassar. Oleh Pika yang telah lebih lama bergabung, kami diajak ikutan berbagi nasi di Jogja.

Bedanya Berbagi Nasi Makassar dan Jogja salah satunya adalah waktu berbagi. kalau di Makassar, kami akan mulai berumpul ba’da isya dan mulai berbagi secepat mungkin jangan sampai kemalaman. Nah, kalau di Jogja justru Berbagi Nasi mulai dilakukan di pukul 22.00 waktu setempat. Alasannya karena di waktu-waktu seperti itu, target berbagi atau yang akan menerima nasi bungkus benar-benar adalah orang-orang yang membutuhkan. Seperti yang saya ketahui selama ini, target yang akan menerima nasi bungkus diprioritaskan adalah orang-orang yang bekerja hingga larut malam.

Relawan yang akan membagikan nasi disebut pejuang nasi. Kami berkumpul di meeting point yang nama tempatnyanya saya lupa haha. Beruntungnya, tempat berkumpul malam itu dekat dengan penginapan, cuma jalan kaki 5 menit kita bertiga akhirnya tiba di lokasi. Setiba di sana, saya sedikit takjub. Waaah, pejuangnya banyak. Ada sekira 15 orang pejuang nasi yang sudah di lokasi. Sementara menunggu amunisi (nasi bungkus), pejuang sambil mengobrol, berkenalan dengan pejuang yang baru (termasuk kami), dan bertukar kabar.

Pembagian Amunisi Untuk Pejuang Nasi

Sementara menyimak obrolan mereka yang tidak saya mengerti karena menggunakan bahasa jawa. Satu persatu pejuang masih berdatangan. Lokasi kami menunggu berada di depan ruko sebuah kantor, agak jauh dari jalan raya, gelap dan banyak nyamuk. Tiba-tiba ada becak yang melintas, sontak salah satu pejuang mengambil amunisi dan mengejar supir becak. Setelah pejuang yang berencana akan datang sudah berkumpul kami memulai dengan membuat lingkaran. Salah satu kakak yang menjadi koordinator malam itu, memberi salam dan memberikan sepatah kata.

Seperti pula di Makassar, acara berbagi dimulai dengan penjelasan dari koordinator. Koordinator menjelaskan jumlah amunisi yang akan dibagikan, titik-titik yang akan didatangi dan pembagian pejuang berdasarkan titik pembagian amunisi. kami berdoa sebelum berangkat, saling mengatur boncengan dan membagi amunisi kepada pejuang. Saya kebagian salah satu pejuang cewek yang mengambil kuliah di Jogja berasal dari Jawa Tengah. Setelah kenalan segala macam kami mulai jalan ikut rombongan berbagi.

Ciee Pika Cie~~

Sasaran lokasi yang didatangi adalah lokasi yang ramai para pekerja. Lah emang mah kalau di Jogja jam 11 malampun masih ramai. Lokasi pertama yang kami datangi adalah Malioboro. Kalau kemarin saya, Pika dan Pio menyusur malioboro buat cuci mata, kali ini kami menyusur Malioboro sambil bawa kantong besar berisi nasi bungkus yang akan dibagikan kepada yang membutuhkan. Selesai menyusuri Malioboro, amunisi tambahan datang lagi. Kami mengambil tempat untuk membagi nasi bungkus sebelum kembali lanjut gentayangan.

Saya kurang tahu nama-nama lokasi di Jogja dan tidak sempat bertanya. Kami juga berpindah dengan cepat jadi pokoknya banyak tempat yang disinggahi. Mengenadarai motor bergerombol seperti ini memang sedikit berbahaya. Saat itu, ada tukang becak yang memarkir becak di kanan jalan. Motor yang berkendara di depan saya memberi kode kepada kami untuk mampir. Pejuang yang membonceng saya langsung banting setir ke kanan jalan. CiiiiiiitttttttĀ Terdengar suara teriakan dan motor yang rem mendadak. Kami hampir diserempet pengendara yang ingin melintas.

Suara teriakan tadi berasal dari salah seorang perempuan pejuang nasi yang memimpin rombongan. Merasa diteriaki, pengendara yang sepertinya suami isteri itu menghentikan motor, turun dari motor menghampiri rombongan kami. Wih saya deg-degan hampir keserempet dan menghadapi situasi seperti ini di kota orang. Pejuang nasi tadipun menjelaskan bahwa ia berteriak bukan karena marah, tapi karena kaget. Oke, masalah selesai, setelah saling mengingatkan untuk hati-hati, kami melanjutkan perjalanan. Hampir lecet deh saya di kota orang. Alhamdulillah masih diberi keselamatan.

Selesai menghabiskan amunisi, kami kembali ke titik awal berkumpul. Karena telah larut malam, satu persatu pejuang pamit. Kami bertiga yang kayaknya gak ada yang berniat nganter (hahaha) akhirnya pamit juga. jam tengah malam di Jogja, jalan kaki bertiga, saya masih antara deg-degan dan mau ketawa mengingat tadi hampir lecet yampon. Satu misi di Jogja selesai, kami tiba di penginapan tengah malam untuk istirahat. Besok kami banyak agenda, agenda jalan-jalan.

Semangat berbagi!

Ah iya, buat teman-teman yang mau gabung Berbagi Nasi Makassar atau Berbagi Nasi Jogja, bisa cek di bawah sini

Instagram : berbaginasijogja
berbaginasimks

2 thoughts on “Berbagi Nasi Yogyakarta (Jogja Part 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *