Drama di Surabaya

“Gaes, we are ready to jogja”

Begitu kira-kira petikan pesan yang saya kirim ke obrolan grup yang isinya adalah saya, Pika dan Pio. Kalimat tersebut saya kirim dengan perasaan lega yang campur aduk. Bagaimana tidak, sudah dua hari ini kami berburu tiket murah dengan iming-iming harga yang jauh lebih murah ketika jam menunjukkan waktu tengah malam. Ternyata setiap kali melakukan booking, harganya menjadi jauh lebih mahal dan hal itu terjadi selama beberapa kali. Jelas ini penipuan (menurut kami yang sudah putus harapan haha). Akhirnya kami memilih untuk melakukan transaksi melalui situs yang memang sudah terpercaya saja, dengan harga normal.

Beberapa hari sebelum berangkat, kami memutuskan bertemu untuk membuat perencanaan perjalanan (ceileh). Saya yang lebih sering bepergian sendiri biasanya merencanakan perjalanan saat melakukan packing. Namun kali ini saya bepergian bersama dua orang lain dan kami juga tidak hanya mendatangi satu kota namun 4 kota sekaligus. Setelah membuat perencanaan perjalanan, mencari tumpangan tempat tinggal, hingga rules ala-ala kami. Akhirnya kami sisa menunggu hari berangkat.

Rapat (tsah) destinasi selama trip

Malam hari 6 April 2017, kami tiba di bandara Juanda Surabaya. Setelah mengambil barang-barang yang dibagasikan kami berkutat dengan handphone berusaha memesan kendaraan online, grab. Yes, dapat. Suara di seberang menyapa saya bertanya lokasi pasti di sebelah mana yang saya jawab dengan penjelasan bahwa saya berada di pintu keluar bandara. Penjelasan yang sangat baik 😀

Maaf mba, kami gak bisa masuk mengambil penumpang. Mbaknya harus jalan beberapa meter dari Bandara.

Oh gitu mas? Berapa meter? Ke arah mana? Jauh nggak? Barang saya banyak soalnya (dan saya rapuh banget  maas HAHA)

Setelah negosiasi tanpa jalan keluar, saya menutup telepon dan menjelaskan keadaan ini kepada Pika dan Pio. Mas Grab yang tadi telepon mengirimkan pesan via whatsapp kepada saya bahwa dia hanya bisa menjemput di Mcd terdekat yang jaraknya (subhanallah) 1 km atau lebih. Setelah berfikir sebentar, kami memutuskan keluar melihat kondisi angkutan apa yang bisa membawa kami sampai ke Daerah Gubeng. Sebenarnya sih, banyak pilihan.. ada taksi bandara, travel bahkan bus. Tapi kita-kita ini kan mau menghemat dan meminimalisir pengeluaran sebaik mungkin jadi ya begitulah. Saya bertanya harga kepada salah satu supir travel dan diberi harga Rp. 200.000. Selanjutnya kami bertanya kepada supir taksi yang dijawab dengan harga yang hampir sama. Saya melirik arloji dan panik sendiri melihat waktu sudah hampir tengah malam, oh nggak ding ini jam Makassar belum diubah HAHA. Saya memutuskan menelpon taksi resmi setelah gugling harga yang sekiranya lebih murah jika menggunakan taks resmi.

Maaf mbak, selain taksi khusus bandara gak ada taksi yang boleh masuk ke situ

Hari pertama yang drama. Sebuah taksi bandara berhenti di depan kami menawari dengan harga yang bisa dinegosiasi. Oke, ini satu-satunya cara, nego sampai benar-benar mentok. Setelah negosiasi yang panjang, Bapak supir taksi pas pada harga Rp. 100.000. Dengan syarat dari kami argonya tidak usah dinyalakan, soalnya kami khawatir beliau mengikuti harga argo yang tidak bisa kami perkirakan, siapa tau kami diajak muter-muter dulu yakan. Hampir jam 10 saat kami sudah dalam perjalanan menuju Gubeng, tempat kami menginap. Sambil tetap memantau google maps (kebiasaan, takut diculik) saya bertanya banyak hal kepada Bapak supir taksi soal angkutan online dan konvensional. Mengingat masalah ini sedang panas-panasnya di Makassar, saya jadi tertarik untuk membandingkan. ASTAGA, saya lupa mengabari mas Grab tadi

Maaf mas lupa kabarin, aku lupa cancel juga, maaf banget mas kami naik taxi bandara aja soalnya mcd jauh banget barang saya banyak. Maaf ya mas L

Iya mbak gapapa. Udah sampai kan?

Bersambung~~

12 thoughts on “Drama di Surabaya

  1. akkkhhh mau jalan2 juga. tapi hari pertama udah drama.. waiting for sesi drama selanjutnya.

  2. Yaelah Tari…
    Di mana-mana taksi online memang ndak boleh masuk bandara. Paling ya kayak gitu, disuruh jalan jauh dulu.

    Jarang ke bandara ya? #eh #ditappek

    1. Yaelah daeng bikin jatuh poin aja sik 😆😆

      Biasanya bisa kok tapi masnya harus matikan aplikasi dlu trus jadi nanti seolah olah dijemput keluarga. Hahaha

  3. Wah sama, temenku dr luar kota dateng ke Bandung, taksi online nya gak berani masuk bandara. Jadi temenku mesti nyamperin dengan jalan kaki dan cukup jauh.

    1. Iyaa aku juga waktu ke Bandung gituu. Tapi yg ini disuruh jalannya jauh banget hahaha

  4. kalau di Bandara Juanda , sebaiknya bila tetap mau pake jasa taxi online, gunakan bus damri bandara dan turun di lokasi terdekat di luar area bandara (hotel atau rumah makan ) dengan ongkos kisaran 20.000 , baru lakukan ordr online

    1. wah makasih sarannya Mas. Iya kemarin sempat kepikiran tapi udah buru banget trus takut kesasar bertigaa haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *