Hadiah Untuk Ibu

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya di Sini. Tulisan yang saya buat sehari setelah melakukan ujian meja dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Sastra. Setelah menempuh kurang lebih setahun setelah proposal, akhirnya saya melaksanakan ujian meja pada tanggal 21 November 2016, menjalani yudisium pada tanggal 30 November 2016, dan Wisuda pada tanggal 21 Desember 2016. Lama studi kurang lebih 5 tahun akhirnya berujung di sini.

Setelah Ujian Meja
Setelah Yudisium

Drama mengenai ujian meja sudah saya ceritakan pada postingan sebelumnya. Ada beberapa drama selama ujian yang tidak bisa diceritakan secara rinci. Beberapa pertanyaan tak terduga juga hampir membuat syok dan membuat dua jam proses ujian menjadi terasa lama. Salah satu pertanyaan yang membuat syok yang menjadi pertanyaan pertama adalah “Utari, berdasarkan judul skripsi yang kamu ambil.. Coba jelaskan relasi antara nama lengkap kamu dengan judul skripsi mu!” Saya yang semula memasang wajah siap diuji tiba-tiba menjadi berkerut dan memutar otak menjelajahi ingatan mata kuliah logika sastra. Ya, memang ada hubungannya dan syukurnya saya bisa menjawab dengan baik.

21 Desember 2016, menjadi hari yang juga akan selalu saya ingat. Beberapa pekan sebelum hari tersebut saya yang sedang berlibur di luar kota, setidaknya tiga kali dalam sehari ditelepon oleh Ibu saya. Tari, kebaya mau warna apa? … Sepatu ukuran 36 atau 37, Tari? … baju dan toga wisuda mau dijahitkan atau sewa saja? Tari abis wisuda mau langsung nikah apa gimana? Ibu sama sekali tidak bisa menyembunyikan betapa ia sangat semangat ingin melihat anaknya mengenakan toga.

Tepat 21 Desember 2016, sayangnya saya dan Ibu tak bisa berangkat bersama dikarenakan urusan berdandan yang harus pagi sekali dan Ibu menginap lumayan jauh dari kampus. Belum selesai prosesi berdandan, Ibu sudah menelpon beberapa kali membuat saya panik. Setengah jam sebelum gerbang Baruga A.P Pettarani tempat wisuda ditutup, saya sudah masuk dan duduk di tempat yang sudah ditentukan. Setelah bernafas dengan baik saya memeriksa telepon genggam melihat sekian panggilan tak terjawab dari Ibu. Ibu sudah tiba lebih dulu di dalam baruga di lantai dua, tempat para orangtua wisudawan ditempatkan.

Wisuda berjalan khidmat. Fakultas Sastra menjadi Fakultas ketiga yang mendapat giliran untuk naik ke atas panggung Baruga. Jadi saya tidak terlalu lama menunggu dan tidak membuat makeup luntur duluan (hahaha). Tiba giliran, saya dan teman sejurusan lain mengantri di depan panggung Baruga menunggu fakultas sebelumnya selesai. Di depan tangga panggung saya melirik ke atas, meskipun tidak bisa melihat di posisi mana Ibu saya duduk karena tidak memakai kacamata, saya tersenyum dan merasa Ibu juga tersenyum saat itu.

Fakultas sebelumnya telah selesai, karena mendapat nomor urut dua maka saya berdiri tepat di atas panggung bersiap maju untuk dipindahkan tali toga di kepala. Wakil dari Fakultas membacakan pembukaan, kaki saya lemas, jantung berdebar, di titik ini saya yakin Ibu di atas pasti sudah menitikan air mata. Saya melirik ke sebelah kanan tempat orangtua wisudawan lulusan terbaik duduk, di atas panggung. Dalam hati saya meminta maaf kepada Ibu, tidak bisa membuat ia duduk di sana karena lama studi yang tidak memenuhi kualifikasi untuk disebut lulusan terbaik.

Proses wisuda ditutup dengan mars Universitas Hasanuddin. Saya menelpon Ibu, meminta ia menunggu di depan pintu masuk. Seketika pelataran Baruga berubah seperti pasar menjelang lebaran. Setelah mengambil waktu agak lama saling mencari, saya dan Ibu bertemu. Ibu melindungi saya keluar dari kerumunan wisudawan dan keluarga lain. Hampir 20 menit terkepung, akhirnya kami mendapat tempat yang agak lowong. Saya baru mencium tangan beliau, berterima kasih sekaligus meminta maaf. Kami berpelukan seperti baru bertemu setelah sekian lama. Sebagai anak sulung yang keras dan sebagai Ibu dengan banyak hal untuk dipikirkan, kami sangat jarang melakukan pelukan seperti ini.

Ibu nda mau lihat nilai ku? saya bertanya sambil mengacungkan map merah berisi transkrip.

Sebentar pi, kita foto-foto dulu. (hahaha)

 

8 thoughts on “Hadiah Untuk Ibu

  1. Eh, itu serius ukuran kakinya 37? Kecil juga yak. *salah fokus*
    Selamat ya, Tari! Akhirnya bisa memberikan hadiah untuk ibunya berupa gelar sarjana. 😀

    Oiya, makasih udah memeriahkan GA saya. :))

    1. kadang malah 36set *ikutsalahfokus hahaha

      Terima kasih, selamat hari ibu selamat berulang tahun blognya 🙂

  2. Aaaaah, keren. Bisa dapat gelar sarjana dan disaksikan ibu. Itu impian kita semua yang sedang maupun ingin kuliah.

    Saya kaget baca pertanyaan itu. Kok ada pertanyaan relasi nama lengkap dan judul skripsi? Saya baru tau ada pertanyaan kayak gitu. Maklum saya masih SMA. Hehehe.

    1. hahaha halo robby.. pertanyaan ujian meja memang kadang out of the box, apalagi saya ada mata kuliah yang harus mikir kayak gitu.

      Terima kasih sudah mampir 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *