Halo Jogja (Part 1)

Setelah perjalanan panjang Makassar-Surabaya-Malang-Solo, akhirnya kita tiba di tujuan sebenarnya perjalanan trip bertiga, Yogyakarta. Kami berencana akan tinggal selama 2 minggu di Jogja. Lama bener yah? Iya nggak? Saya soalnya jarang trip lama-lama. Gampang bosan dan kangen sama kota sendiri. Dengan kereta Prameks, Kami berangkat dari Solo menuju Jogja. kami turun di Stasiun Lempuyangan, menurut informasi dari teman tempat saya numpang (hihi) tempatnya tidak jauh, bisa jalan kaki kok kata beliau.

Saya, Pika dan Pio awalnya memang sudah niat naik grab. Pertama, kami sedang capek banget habis kejar-kejaran kereta gara-gara salah peron. Kedua, beban di bahu hampir sama dengan beban perasaan kepada dia yang tak dapat dimiliki. Terakhir, kami ragu dengan kata dekat versi teman saya. Keluar dari Stasiun, kami melangkah ke selatan mengikuti insting. Jalan.. jalan.. jalan.. Pas mau pesan grab kami melihat spanduk besar yang ditulis dengan huruf full kapital himbauan kepada taksi dan ojek online untuk tidak mengambil penumpang 500 meter dari stasiun. Oh gitu, baiklah kita jalan kaki sekira 500 meter dari stasiun lalu pesan grab. Tapi tetap saja driver tidak berani menjemput, kami diminta menggunakan angkutan sekitar stasiun saja. Kami seketika saling lihat dan duduk sebentaran kemudian tertawa. Padahal sudah lumayan jauh jalan kakinya.

Stasiun Lempuyangan

Setelah cek maps alamat tempat tinggal, weleh weleh kami salah arah. Harusnya, pas keluar stasiun kami jalan ke utara, eh ini malah ke arah sebaliknya. Dengan kepasrahan level maks, kami jalan ke utara. Saya masih sempat-sempatnya video call bareng Khalis, sebuah upaya pengalihan rasa capek gendong beban 80 liter. Setengah perjalanan saya kasihan lihat Pika dan Pio sudah setengah nafas, keringat bercucuran. Wes lah, kita naik taksi sekitar stasiun. Setelah tawar menawar deal Rp. 20.000 kamipun naik minta diantar ke alamat tujuan.

Kami menumpang di Asrama Mahasiswa Sul-Sel, setiba di sana langsung kenalan karena memang sebenarnya belum kenal tapi udah ngerepotin aja. Terima kasih semua orang baik yang selalu membantu. Setelah beristirahat, mandi dan siap-siap, kami keluar mencari makan malam. Karena tempat kami  nginap dekat dengan Malioboro, kami memutuskan makan di malioboro. Pas banget kita sampai ke Jogja malam minggu, ramai malioboro benar-benar gak santai. Saking laparnya, pokoknya langsung mampir di lesehan pertama yang kami temui, yang ternyata pricenya lumayan juga. Bayangin aja sih, nasi ayam totalnya 35.000-45.000 per porsi. Di Jogja makan harga segitu di lesehan bikin merasa ditipu banget. Setelah capek keliling Malioboro, kamipun pulang ke Mess. Sempat berpencar, balik-balik Pika sudah menenteng kresek isinya celana batik.

Makan Malam di Malioboro
Malioboro Rame Banget Malam Minggu

Sadiis, hari pertama sudah beli oleh-oleh

Ngg, nda ada celanaku kak, mau dicuci. Anuh juga, masa sekali tawar langsung diiyakan

HAHAHA

13 April 2017

List kunjungan kami selama di Jogja beneran mainstream. Hari kedua, kami menuju Keraton Jogja. Sarapan di depan keraton sebelum kemudian masuk. Tiket masuk ke Keraton Jogja saat itu adalah Rp. 7.500. Sayangnya, sedang tidak ada pertunjukan yang seru saat kami datang. Keraton Jogja yang merupakan istana kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki 7 kompleks inti. Kami berkeliling, mengamati benda pusaka, menyimak sejarah kesultanan, dan tentu saja foto-foto. Dari pertemuan saya dengan teman di Jogja, saya baru tahu bahwa keraton Jogja ini merupakan pusat dari garis imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis dan Gunung Merapi. Saya suka banget lihat aktivitas abdi dalem yang sedang bertugas. Sebenarnya saya berharap datang ke sini selasa wage biar bisa lihat lomba panahan di sini.

Prosesi Perawatan Benda-Benda Keraton

Puas berkeliling Keraton, kami melipir ke Taman Sari. Beli tiket dulu seharga Rp. 5000. Tamansari yang merupakan bekas taman dan kebun keraton ini lumayan ramai. Kompleks Taman Sari  dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan, terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan. Thanks brosur atas penjelasan sejarahnya yang saya paste di sini. Hihi

Salah Satu Spot yang Ramai Antrian Berfoto

 

Tamansari
Salah Satu Persinggahan Kece untuk belanja di Sekitar Kraton

Banyaknya spot yang kece untuk berfoto mungkin jadi salah satu alasan, tempat ini selalu ramai pengunjung. Sumur Gumuling paling ramai di antara semua tempat. Untuk menuju ke sana, kami melewati beberapa terowongan.  Sumur Gumuling pada masanya juga difungsikankan sebagai Masjid. Untuk berfoto di sini, antrinya luar biasa. Harus sabar dan beridiri dekat tangga. Bagi saya sih, semua tempat di sini sangat keren untuk berfoto dan tentu saja belajar sejarah.

Kami mengakhiri jalan-jalan hari ini dengan mencari kedai kopi terdekat. Saya yang memang punya agenda ingin ke Ruang Seduh langsung mengajak Pika dan Pio untuk ke tkp. Mumpung kebetulan dekat. Ruang seduh memang tidak sebesar cafe-cafe pada umumnya. Konsepnya yang serba putih dan aroma kopi ketika membuka pintu kedai sudah bikin saya betah, apalagi kakak yang pakai kaos putih *ehapaan*. Bisa pilih bean sendiri, diajar menyeduh pakai walkure. Menyeduh dengan penuh kehati-hatian, buset dah kalau walkurenya lecet, bisa gak pulang saya.

Menyeduh dengan penuh Perasaan

To be continoed~

8 thoughts on “Halo Jogja (Part 1)

    1. Yaampun kak.. kta ke Jogja pas saya masih bayik banget itumah hahaha.. Ke jogja lagilah kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *