Ingatan Masa Kecil

Sebagai anak jarang pulang, setiap pulang adalah euforia tersendiri bagi saya. Menikmati jalan menuju rumah, membayangkan betapa nyaman berada di rumah sampai perubahan-perubahan yang baru saya tahu. Setahun tidak pulang membuat saya tiba di rumah dengan norak. Ih ini kok jadi pindah ke sini, waaah Ibu kapan beli ini, sampai kejedot gara-gara tidak sadar sudah bertambah tinggi.

Pulang saat momen Ramadhan mengingatkan saya kenangan masa kecil berpuasa. Pada zaman saya masih kecil, anak-anak yang sudah bisa membaca dan menulis diwajibkan ikut mengaji atau tamat al qur’an. Kami mengaji di rumah Imam Mesjid setempat yang jaraknya dari rumah saya hanya sekira 200 meter. Kurang lebih 15 anak ikut mengaji dengan tingkatan bacaan yang berbeda. Kami mengaji saat subuh dan siang.

Ketika bulan Ramadhan tiba, waktu mengaji dipindahkan dari subuh dan siang menjadi subuh dan sore. Subuh di rumah Pak Imam dan Sore di Masjid. Pada subuh hari, sebelum mengaji kami bagi tugas. Ada yang mengangkat air ke atas rumah, ada yang menyapu kolong rumah, serta membersihkan area kami akan mengaji. Semua dilakukan dengan ikhlas, seikhlas guru mengaji kami meluangkan waktu setiap hari.

Tahap ini mungkin menjadi pengaderan kedua saya setelah di rumah. Bagi kami anak-anak yang biasa membantu orangtua bekerja di rumah, urusan angkat air dan menyapu sampai halaman belakang beratus meter sangat biasa. Belum lagi kalau sedang mengaji, bacaan salah maka paha kami harus siap dipukul rotan. Tidak datang mengaji karena sengaja, betis harus merah dipukuli rotan berkali-kali. Apalagi berkelahi, waah hukumannya bisa berkali lipat. Angkat air, menyapu, dan dipukul rotan. Itulah mengapa, kadang kami lebih takut bertingkah di depan guru mengaji dibanding di depan orangtua.

Sore hari di bulan Ramadhan, kami mengaji di Masjid. Membuat suara lantunan ayat al qur’an menggema sehabis shalat ashar. Pada malam jumat, kami akan tinggal untuk membaca surah yasin berurutan dan didengar seantero kampung. Urusan buka puasa juga kami yang mengurus, setiap rumah kebagian jadwal membawa makanan buka puasa ke Masjid. Kami harus siap sedia mengatur dan membereskan makanan untuk buka puasa orang-orang yang berbuka di Masjid.

Itulah ingatan masa kecil yang paling membekas di ingatan, masa-masa mengaji. Lah, itu kerjaannya cuma mengaji terus? Oh tidak 😂😂 .Di siang hari saya sering bermain ke sungai, membantu nenek di kebun, atau main ke rumah tetangga. Saking seringnya main ke sungai, suatu waktu saya hampir mati tenggelam terbawa arus di sungai. Untung lagi ramai orang mencari ikan, jadi cewek manis ini selamat dari arus air yang derasnya kayak kangen (yaelah).

2 thoughts on “Ingatan Masa Kecil

    1. Tadinya mikir gausah di approve kali yah hahahah. Ini diketiknya di hape, kelewat. hahaha #alasyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *