Jangan Pernah Membenci Umik

angin laut bertiup perlahan, aroma amis bercampur lengket asin air laut menerpa wajah. Di lego-lego abi sedang menyiangi jala yang akan di gunakan menangkap ikan besok subuh. Aroma masakan umi tercium sampai ke bawah.

“Nay, nailah nak. Bantu umi mu dibelakang”

Aku berpura-pura tidak mendengar teguran abi, lanjut bermain keciprak air empang di samping rumah. Satu dua ikan kecil menyerupai lintah berenang ke tepian. Aku melihat baik-baik bayangan wajah abi dibawah cahaya lampu sumbu yang dirangkai dari kaleng susu bekas. Wajahnya kecoklatan karena panas matahari. urat leher abi menyembul setiap kali berusaha menarik paksa tasi’ yang tersangkut. Sesekali ia menarik nafas panjang, sesekali juga angin malam membuat tenggorokannya kering dan terbatuk.

“abi mau ay buatkan kopi?”

Aku bertanya sembari menaiki anak tangga yang licin karena air hujan. Abi hanya memperhatikanku sekilas dengan senyum tipis pertanda ia menginginkan itu. Lalu aku masuk ke rumah, umi sedang mengangkat panci dari tungku dengan tergesa-gesa. Pelapis tangannya pasti tidak cukup tebal, umi kepanasan. Umi melihat sekilas, tidak cukup tertarik dengan kehadiranku. Lalu memandangku dengan tatapan umi bisa mengerjakan semuanya sendiri, kau boleh pergi. Tapi tidak, aku ingin membuatkan abi kopi. Jadi kami, aku dan umi mengerjakan hal berbeda di dapur. Hanya terdengar denting gelas dan piring beradu, sisanya senyap.

Aku keluar dapur membawa segelas kopi, dengan takaran yang sudah kuhafal betul. Mataku basah dan berair, kayu bakar yang tercampur dengan air asin yang kemudian kering memang menjadi satu-satunya alternatif untuk bahan bakar memasak. Kayu-kayu tersebutlah yang jika digunakan memasak, akan mengeluarkan asap yang membuat mata perih bukan main.

“nay…”

Abi memutus lamunanku, ia memanggil lirih setelah menyeruput kopinya. Sebenarnya, aku tidak begitu suka keadaan dimana aku dan abi harus duduk bersama dan kita mulai bicara dengan serius.

“kamu mau ke kota? Ingin membeli sesuatu mungkin?”

Abi berbicara sambil terus menjahit jala yang sebentar lagi selesai. Aku memilih diam mendengarnya. Aku, umi dan abi tinggal di sebuah dusun di pinggiran pantai dengan hamparan empang di sisi kiri dan kanan jalan. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk akses ke kota menggunakan sepeda motor. Kadang, jika kami bertiga ingin ke kota, abi akan memanggil seorang teman yang tinggal beberapa kilo dari rumah untuk ikut mengantar kami. Rumah di tempat ini terpisah jauh, akses air bersihpun lumayan jauh, terutama jika musim sedang kemarau. Satu-satunya tempat terdekat untuk memperoleh air bersih ialah sumur yang tidak begitu dalam yang terletak beberapa meter dibelakang rumah. Jika aku akan mandi di pagi hari maka jerjen untuk air bersih harus ikut tersampir dibahuku saat pulang dari sumur.

“abi tahu kamu marah, berkesahlah Nay. Kamu berhak untuk itu” Abi masih sibuk dengan jala di tangannya. Suara debur ombak terdengar samar-samar dari kejauhan diselingi suara orang bercakap yang terbawa oleh angin. Aku tiba-tiba merasa jengkel, jengkel bercampur sedih yang jika terus kupikirkan akan membuat mataku panas. Dadaku membuncah, aku setengah berlari masuk ke kamar membenamkan wajah di bantal, menangis.

Abi terdengar memasuki rumah, berhenti dari aktivitas memperbaiki jala. Ia mengambil tempat di depan meja bundar yang biasa kami gunakan untuk makan.

“kenapa abi mesti membahas itu, dia tidak akan keluar makan, malam ini” umi terdengar berbicara kepada abi, sedang abi hanya menjawab pendek

“biarkan saja dia”

Suara deru mesin motor membangunkanku, kalau sudah begini itu artinya abi benar-benar akan membawa kami ke kota. Aku berlari kecil keluar mengintip dari pintu, hanya terlihat satu motor yang artinya hanya dua orang yang akan berangkat.

“nay, masuk makan” umi memanggil dengan tidak sabar. Aku justru mengambil handuk memilih mandi. Aku benci umi memanggil begitu. Umi tidak lembut seperti ibu lain yang teman-teman ceritakan di sekolah. Karena sikap dingin yang aku tunjukkan sejak malam tadi, umi memilih mendiami ku. Aku sama sekali tidak ingin makan, tidak akan sampai aku benar-benar puas membuat mereka khawatir.

Tadinya kupikir Cuma aku dan abi yang akan ke kota, ternyata aku dan umi yang akan pergi. Umi membawa motor dengan cekatan, dalam diam. Di pasar, umi membeli lebih banyak kebutuhan sementara aku tidak begitu memerhatikan. Lebih sibuk melihat-lihat jajaran cd bajakan yang ditumpuk abang yang sibuk memutar kaset pesanan ibu-ibu sebelah. Setelah berbelanja ke pasar,  motor yang umi kemudikan tidak langsung mengarah pulang. Kami mengarah ke bank dekat pasar. Aku heran, bingung. Kami tidak pernah ke bank untuk urusan apapun, tapi kali ini aku tak sabar untuk bertanya. Pertahanan mendiami umi sejak kemarin akhirnya runtuh.

“kita mau apa disini, umi?” aku bertanya sambil melirik sekitar.

“diamlah” umi berkata tegas sambil tetap memperhatikan antrian di layar.

Aku mulai gondok, menyesal bertanya. Harusnya aku tahu umi tidak akan pernah berbaik hati dalam hal keingintahuanku. Dengan diam-diam aku keluar mengusir rasa malas menunggu umi, berjalan beberapa meter melihat-lihat kesibukan pasar hingga aku tidak sadar, hari telah menjelang sore. Aku baru tersadar saat umi menarik paksa tanganku dari belakang.

“kamu ini benar-benar kurang ajar Nay, siapa yang mengajarimu sifat seperti ini hah? Umi mencarimu sepanjang sore, kau malah hela-hela disini. Kamu benar-benar tidak tau diuntung Nay”

Umi berteriak mencengkram lenganku dengan keras di tengah-tengah pasar. Itu sudah cukup untuk membuatku memutuskan untuk berlari menjauhi tempat memalukan itu. Tidak cukup sampai disitu, umi mengejarku menarik paksa hingga ke tempat parkir. Disitu, kesabaranku mulai habis. Aku menghempaskan tangan umi dan itu cukup membuat ia melotot anyar padaku.

“umi jahat, Nay benci umi, Nay menyesal dilahirkan sama umi, menyesal dilahirkan di keluarga ini, Nay ben…”

Plak, umi menampar pipiku,, sedetik kemudian ia menyerahkan kunci motor padaku dan bejalan cepat menjauhi tempat itu sambil membungkan tangis di wajahnya. Aku masih berdiri terpaku memegang pipi yang memerah.

Dan masalah tidak selesai disitu saja..

Abi terlihat heran melihatku pulang mengendarai motor sendiri, dengan wajah sembap.

“dimana umimu, Nay?”

“umi jahat, bi.. umi marah pada Nay, menampar Nay. Nay benci umi” aku mengadu terbata-bata, masih menangis. Abi menggeleng sedih.

“jangan pernah membenci umimu Nay, jangan pernah lakukan itu Nak”

“umi melarang Nay melanjutkan sekolah, hanya karena Nay perempuan. Umi tidak sayang pada Nay” akhirnya beban dan alasan mendiami umi selama ini kukeluarkan.

“kamu keliru Nay, umi tidak pernah melarangmu.. bahkan …bahkan umi menjual cincin pernikahan kami untuk biaya sekolahmu. Dan hari ini lihatlah umimu mengajakmu ke pasar untuk membeli perlengkapan sekolahmu. Kamu jangan pernah membenci umimu Nay, jangan pernah. Umimu terus menangis sepanjang malam melihat kau tak mau makan, menolak untuk berbicara…” aku menangis terduduk, lututku lemas. Semua itu sudah cukup membuatku menyesal memperlakukan umi, aku membayangkan umi mencariku sepanjang siang hingga sore, mengkhawatirkanku. aku melihat sekitar mencari sosok umi dari kejauhan. Dan lihatlah, seorang wanita paruh baya berjalan patah-patah memegang belanjaan yang banyak. Umi berjalan kaki dari pasar, aku saja menempuh perjalanan setengah jam menggunakan motor. Umi terlihat pucat, aku berlari ke umi. Lihatlah umi tersenyum sangat manis hingga aku mencapai umi yang jatuh terduduk.

“umi minta maaf Nay, umi bukan ibu yang baik.. umi bahkan menampar wajah anak satu-satu umi. Maafkan umi, sayang”. Umi memegang wajahku yang sembap air mata sebelum umi akhirnya pingsan. Aku sudah menangis sejadi-jadinya. Minta maaf berkali-kali meskipun umi telah pingsan dan di bawa abi masuk ke rumah. Sejak itu, aku tahu.. aku bisa dan mau melakukan apapun untuk umi. Apapun itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *