Kisah Sedih dari khayangan

Menghabiskan akhir pekan dengan berlibur ke Pulau bukan saya banget. Kalau bukan karena ada acara khusus, ajakan teman dekat, dan rindu bau amis laut, saya pasti lebih memilih menghabiskan liburan dengan nonton film saja. Dibanding berpanas-panas ria di pantai, saya lebih suka main-main ke hutan pinus atau wisata kota sekalian. Tapi, long weekend pekan ini sangat disayangkan kalau terlewat begitu saja tanpa kemana-mana. Jadilah, saya memutuskan ikut ajakan teman-teman main ke Pulau Khayangan pada hari terakhir long weekend.

Pulau khayangan dapat ditempuh  sekira 15 menit perjalanan menggunakan kapal motor. Pengunjung bisa berangkat melalui dermaga resmi yang disediakan oleh pengelola Pulau Khayangan yang terletak di depan Benteng Fort Rotterdam. Ya, Pulau Khayangan dikelola secara –saya sebut saja—professional. Pengunjung akan menemui loket untuk transaksi tiket sebelum memasuki dermaga, penampakan yang tidak saya temui setahun yang lalu. Berbeda dengan pulau lain yang untuk menyebrangnya hanya perlu bernegosiasi harga dengan pemilik kapal.

Setiba di Dermaga, saya dan rombongan memarkir kendaraan dan langsung menuju ke loket tiket setelah membayar parkir Rp.10.000 untuk mobil dan Rp. 5000 untuk motor. Saya sontak kaget melihat harga tiket yang mengalami kenaikan lebih dari 50% dari harga terakhir kali saya datang. Terakhir kali masuk dengan membayar ke Pulau Khayangan tahun lalu, harga tiketnya masih Rp. 30.000.

“Sudah semahal ini yah, mungkin karena sudah ada pengelolanya, sudah ditata dengan baik”

Harga Tiket Pulang-Pergi

Kata seorang teman yang juga kaget melihat price list di muka tiket. Saya mengangguk mahfum. Saya terakhir kali masuk ke Pulau Khayangan pada September 2016, saat itu sedang mengikuti sebuah acara dinner yang mengambil tempat di Pulau Khayangan. Ya, tempatnya memang sudah tertata dengan baik. Banyak fasilitas tambahan baru yang membuat pengunjung betah dan ingin kembali lagi. Ada bean bag untuk tiduran menghadap ke pantai dilengkapi payung-payung yang cantik. Selain itu juga ada kolam renang yang belum diisi air dan fasilitas seperti cafe serta penginapan.

Melihat harga yang semakin mahal, saya berekspektasi kemajuan fasilitas dan penataan Pulau Khayangan yang semakin baik juga. Namun ekspektasi tersebut patah seketika setelah sampai ke dermaga. Dari dermaga saja, kami sudah bisa melihat begitu banyak sampah dan botol minuman keras berserakan di bibir pantai. Sambil memasang wajah murung kami mencari spot untuk menyimpan barang. Kami memilih pohon di bagian kiri dermaga tepat di samping kolam renang yang belum juga diisi air hingga kini.

Pemandangan sampah plastik

Pemandangan sampah botol plastik dan bungkus makanan ringan berserakan sangat mengganggu penglihatan. Belum lagi botol minuman keras yang berserakan dan bau amis aneh yang jelas bukan bau amis laut. Seorang teman dari rombongan gemas melihat sampah-sampah berserakan kemudian mengambil karung dan memunguti sampah di sekitar kami akan duduk bersantai. Sangat disayangkan, penataannya justru lebih buruk dari terakhir kali saya datang. Jangankan mau main pasir, saya memilih tidak melepas sepatu sebab malas duluan melihat sampah berserakan di sepanjang pantai.

Seorang teman yang berganti pakaian di toilet pulang dengan wajah mual. Air di toilet tidak mengalir dan bau di dalam toilet cukup membuat mual. Saya yang memang membawa pakaian ganti untuk mandi di laut mengurungkan niat. Beberapa rombongan yang baru datang juga langsung mengeluh melihat sampah berserakan dan merasa kesal membayar semahal itu untuk pemandangan tidak sedap seperti ini.

Pada kunjungan saya di bulan september 2016 tempatnya belum sejelek ini. Bean bag ditata rapi di pinggir pantai, tidak bebas dipindah-pindah seperti sekarang. Fasilitas tambahan yang bisa ditemui di tempat ini adalah adanya ayunan di bibir pantai yang sangat instagramable. Setelah mengurungkan niat untuk mandi, saya memilih main ke ayunan itu saja sambil meminta untuk difotokan. Saya suka spot tambahan ini, selain cantik untuk di foto juga menyenangkan bermain ayunan mengarah ke laut. Sambil bergantian bermain ayunan, saya berjalan di pinggir pantai, membuka sepatu dan menyisir bibir pantai yang airnya sepantaran betis. Saya kembali kaget menemui beberapa beling diantara pasir dan kerang di pinggir pantai.

Beling yang ditemukan di bibir pantai

Sangat disayangkan, Pulau Khayangan dengan retribusi sedemikian mahal tidak sesuai dengan apa yang pengunjung dapatkan. Padahal tempat ini dikelola oleh pihak yang harusnya bertanggung awab akan kenyamanan para pengunjung yang datang ke pulau ini. Saya tidak akan bilang bahwa pihak pengelola harus stay setiap saat memungut sampah yang dibuang pengunjung, tidak. Bukankah lebih efektif jika para pengunjung diedukasi tentang menjaga kebersihan dan keindahan pantai sejak membeli tiket? Jika tidak, pengelola bisa berpatroli setiap sekali dalam beberapa jam untuk mengingatkan pengunjung untuk saling menjaga ketertiban dan kenyamanan.

4 thoughts on “Kisah Sedih dari khayangan

    1. Iyaaa. Terakhir kali ke sana acara tahun lalu trus waktu itu tidak sekotor sekarang. *tear

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *