Kutitip Ibu

Pagi belum lagi datang, Ibu telah krasak-krusuk di dapur. Aku, yang pada dasarnya memang sensitif dengan suara, terbangun dan menjenguk ibu di Dapur. Dari belakang terlihat siluet ibu sedang mengemas barang-barang. Tangannya lengket dan keringat sepagi ini telah membulir didahinya. Aku duduk didepan meja, ibu belum sadar sampai ia berbalik dan mundur karena kaget.

“ah Naira, kamu toh.. sudah bangun? Mau sarapan dulu?”

Ibu berkata seperti itu sambil membereskan beberapa barang kembali dan mengusap keringat di daster yang ia kenakan. Aku masih tertegun menyandarkan kepala di meja. Hanya ingin menemani ibu bersiap-siap, pasti sangat kesepian bangun sepagi ini dan menyiapkan semuanya sendiri.

“Mak, jam berapa ke pasar? Mau dibelikan kue itu mak yang  seperti kemarin” kataku masih dalam keadaan mengantuk.

“hush,, kamu ini. Tidak boleh menitip seperti itu . itu namanya menghalangi rejeki, Nak. Nanti kalo ada uang pasti dibelikan biar kamu nda menitip. Sudah.. kamu bantu mamak bawa barang ini ke bawah, nanti mobilnya lupa singgah didepan rumah”

Aku berdiri sedih, kalau ibu sudah berbicara tentang rejeki aku tak bisa berkata apa-apa. Kalau ibu sudah bilang seperti itu dan aku membantah biasanya ibu akan mengeluarkan pepatah bagaimana mungkin kita bisa menggigit siku kalau itu sulit.

Aku membantu menurunkan jergen-jergen berisi minyak kelapa ke bawah. Pasti sangat sulit bagi ibu mengangkat barang seperti ini dengan keadaan rumah panggung yang tangganya kadang licin di pagi hari. Ibu mengambil tas kecil dan keranjang berisi kantong plastik. Aku menemani ibu menunggu di tangga, kami terdiam lama hingga klakson mobil menepi di depan rumah. Ibu berangkat berpamitan menyuruhku naik ke rumah dan mengunci pintu.

Pagi telah datang, aku memang tak bisa bangun siang sebab suara-suara kokokan ayam dan riuh tetangga bercerita terlalu mengusik sepagi ini. Setelah mengikat rambut aku berjalan ke dapur, membereskan rumah, mencuci piring dan menepikan barang-barang tak terpakai lagi. Ayah terlelap di sofa depan, jaket berserakan di meja hampir menjatuhkan asbak dipinggir-pinggirnya. Aku merapikan sedikit membuat suara dan membuatnya terbangun. Ayah mengusap wajah berbicara mencari rokok. Bau alkohol tercium lebih tajam lagi. Aku mengambil sapu pura-pura membersihkan dapur yang sudah bersih aku benci bau itu.

Aku berangkat ke sekolah sendiri, adik laki-lakiku masih tertidur akibat begadang semalaman. Setelah berkelahi sebentar akhirnya ia terbangun dan mandi. Harus bersiap-siap ke sekolah juga. Aku pulang lebih awal. Ibu belum datang, ayah duduk di beranda bersarung sambil minum kopi. Aku melewatinya tanpa menegur. Setelah berganti pakaian , ibu terdengar menyapa tetangga di bawah. Aku selalu merasa  seperti anak kecil yang begitu gembira ketika ibunya datang dari pasar. Ibu naik membawa barang-barang sendiri dengan senyum ramah.

“syukurlah minyaknya habis, jergennya tadi hampir tumpah gara-gara terlalu licin”

Ibu berkata seperti itu sambil memisahkan barang belanjaan. Diluar, ayah kedatangan tamu. Sebenarnya bukan tamu tapi teman-teman yang selalu bersama ayah menghabiskan malam dengan minum tuak, begitu setiap hari. Hingga malam hari, suara mereka berbicara semakin keras dan menyebalkan. Kadangkala diselingi tawa. Ibu berbaring menonton TV sedang aku memasang telinga mengawasi, menunggu mereka pulang. Baru saja mimpi ingin menyentuhku aku terlonjak kaget karena suara gelas yang dibanting. Aku tak mendapati ibu, jadi aku berlari keluar dan mendapati ibu serta beberapa teman ayah memegangi ayah.

“Dasar anak muda tidak tau diuntung. Mati kamu ditanganku”

kata ayah sambil berlari masuk kedalam rumah mengambil badik. Aku menangis memegangi ayah memohon. Ayah tak peduli ia terus berbicara seperti mengigau. Ia mabuk dan menyalahkan anak muda tadi karena tak ingin membeli tuak lagi.

Ibu bersandar di pintu menangis tanpa suara. Anak muda tadi muncul matanya merah menatap tajam ke mata ayah, dan meludah ke arah ayah. Aku terlonjak refleks berdiri. Ayah terlonjak refleks menarik badik, mendorong semua orang yang berusaha menahannya, kecuali aku. Ia berhenti, melihat ke arahku. Ayah tak bisa lagi menyerang, badiknya kini tertancap di perutku. Ibu dan suara tangisnya yang patah-patah memegangiku dibelakang. Aku tersedak, rasa perih menusuk-nusuk di perutku. Beberapa memori terputar dikepalaku.

Ibu yang sabar bekerja sebagai penjual minyak di pasar. Ayah yang mabuk-mabukan setiap hari. Adikku yg harus bekerja membuat batu bata untuk membantu ibu, dan aku yg sebentar lagi akan lulus sekolah yang memiliki cita-cita agar ibu tak harus bangun subuh lagi untuk bekerja.

Aku tersedak. Nafasku patah-patah. Kalimat syahadat kudengar dibisikkan ditelingaku. Itu suara ibu. Aku mengikutinya dalam hati. Lalu sesuatu seperti ditarik dari tenggorokanku.

Aku menitip ibu padaMu ya Allah..

Aku tersedak. Untuk yang terakhir kalinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *