Maghrib

Aku merindukan maghrib di Kampung halamanku.
Meskipun suaran azan terdengar lirih saja dari serambi rumah.

Aku merindukan ibu berteriak dari dapur menyuruh aku bergegas.. menyuruh adik mengambil wudhu.

Sedang ayah tersenyum lembut di muka rumah menatap senja yang meninggalkan langit yang menjadi warna ungu, warna kesukaan anak perempuannya.

Aku merindukan maghrib di kampung halamanku yg heningnya seolah seseorang akan dihukum mati jika berteriak di tengah jalan saat Masjid menyerukan ayat-ayat Allah.

Di kampung halamanku, maghrib membawa kehangatan di setiap rumah.
Suara dentingan sendok makan malam di Dapur beradu suara jangkrik di Sawah belakang rumah.

Sesekali ayah tertawa renyah melihat putrinya yang dewasa makan dengan rakus, cara makan yang tak pernah putrinya tampakkan di Depan laki-laki yg ia sukai.

Di kotaku, Ayah. Azan maghrib terdengar lirih, beradu dengan suara orang-orang berteriak di Jalan, terburu-buru, menyumpah, meminta didahulukan.

Aku sedih tentu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *