Main ke Semarang

Akhirnya main ke Semarang!!

Tepatnya dua pekan lalu saat keliling Malang – Solo – Jogja, kota Semarang sebenarnya masuk ke destinasi jalan sebulan saya, Pika dan Pio. Tapi, destinasi satu ini harus dicoret gegara dua teman ngetrip saya ribut, satunya mau ke Bandung yang satu lagi mau ke Semarang. Pada akhirnya kami balik ke Makassar. Pekan lalu saat saya beritahu mereka saya akan ke Semarang, Pika jadi sensitif dan tidak terima. Soalnya dia paling kekeuh mau ke Semarang, mau ke Sam Poo Kong, mau ke Lawang Sewu, Kota Lama dan lain-lain. Dikarenakan ini kali pertama saya ke Semarang, saya tidak punya ekspektasi atau daftar tempat yang harus saya datangi. Pokoknya saya mengikut ke jadwal Famtrip Blogger yang akan saya ikuti selama dua hari ini.

Destinasi pertama yang kami datangi Kawasan Wisata Goa Kreo berada di Dukuh Taluh Kacang, Gunungpati. Tempat ini dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun mesjid Agung Demak dan bertemu sekawanan kera yang diminta untuk menjaga kayu tersebut. Pak Nasir, salah satu pengurus Goa Kreo berceita singkat sejarah tempat ini.

Coba datangnya pas bulan juli, ada atraksi drama musikal sejarah Goa Kreo

Masa pak? Jadi saya harus balik nih ke sini bulan juli nanti?

Bapaknya Cuma nyengir dengan muka –ya terserah situ—(HAHA). Sebenarnya saya agak trauma dengan Monyet, soalnya pernah dirampas  harta benda berupa cemilan saat mencoba PDKT dulu saat di Jogja. Tapi monyet di sini tidak seanarkis yang saya bayangkan. Kami bahkan lama berinteraksi dengan mereka, sekalian menyaksikan pemberian makan dengan atraksi yang seru sekali.

Feeding monkey

Destinasi kedua, kami berkunjung ke Desa Jatirejo. Wisata desa memang salah satu favorit saya. Apalagi kali ini bukan Cuma jalan-jalan tapi sekalian melihat langsung pembuatan kolang-kaling. Yes, pelengkap minuman nikmat itu ternyata proses pembuatannya rumit (selayaknya hubungan). Kolang kaling hingga siap konsumsi diolah selama 5 hari dengan proses panjang. Masih di Jatirejo, ada satu lagi tempat yang harus kamu coba, yakni wisata ekstrim trabas.

Wisata ekstrim trabas atau trail adventure di Jatirejo ini cocok untuk kamu yang suka wisata anti mainstream. Pengelola wisata menyediakan sepeda motor khusus dan arena yang akan menguji adrenalin. Kami-kami yang tidak bisa mengendarai motor trail, diberi tebengan gratis menyasar arena yang ekstrem yang sukses bikin teriak-teriak karena seru bercampur panik. Arena Trabas jadi lebih menantang karena malam sebelumnya turun hujan, jalanan licin dan berkelok ditambah suasana pedesaan yang tenang. Kesempatan seperti ini jadi bikin saya niat belajar menggunakan motor trail, biar bisa coba serunya mengendarai sendiri.

Mengolah kolang kaling

Besoknya, hari kedua di Semarang kami mengunjungi Desa Wisata Tugu. Kami disambut Pak Abdul Rofik yang menjelaskan tentang Desa Wisata Mangrove ini. Setelah diberi penjelasan, kami dibagi ke dalam 4 kelompok untuk menyusuri kawasan konservasi mangrove menggunakan perahu. Dalam perjalanan ini, kami juga diberi edukasi pentingnya menanam mangrove untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Di Tapak Tugurejo ini ada 3 jenis mangrove yang dibudidayakan yakni jenis bakau, api-api, dan bruguiera. Perahu berlabuh di Pulau Tirang, di sini kami akan menanam langsung mangrove untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir di masa depan.

Menanam Mangrove di Pulau Tirang

Namanya juga lagi jalan-jalan, tidak lengkap rasanya kalau belum wisata kuliner. Padahal sih, sejak hari pertama kami sudah mencoba aneka macam makanan di Semarang ini. Gerak dikit disodori makan, baru tiba di tujuan diajak makan lagi. Tapi, kali ini kita jalan-jalannya sekalian ke kawasan kuliner kota Semarang. Waroeng Semawis di kawasan pecinan buka pada hari jumat, sabtu dan minggu dengan konsep tenda memanjang sepanjang jalan. Sebenarnya, waroeng Semawis ini dulunya digelar hanya untuk memperingati hari raya imlek tapi sekarang malah keterusan menjadi kawasan kuliner Semarang. Di waroeng Semawis kami mencoba lumpia basah, wedang tahu, tahu gimbal, nasi ayam, ayam isi tahu, ditutup dengan es congli yang segar.

Lumpia Basah

Perjalanan ke Semarangbelum selesai. Ada agenda tahunan yang seru nan meriah di Semarang setiap bulan Mei seperti ini. Dan kami beruntung bisa hadir di perhelatan tahunan paling ditunggu di Semarang, Semarang Night Carnival –yang akan diceritakan di postingan selanjutnya–.

12 thoughts on “Main ke Semarang

  1. Keren yaa, ada agenda jalan2 tersendirinya.
    Betewe, lengkap banget cara menceritakan pengalamannya. Haha.. Saya baru dua kalimat bingung mau menuliska apa lagi. Wkkw

    1. Iya mba kukira semua monyet itu sama2 bar2.. tapi ternyata yg ini lebih kalem asal dikasi makan.

  2. Kalau anak perawan ke Semarang jalan2nya seru gini ya. Haduh itu sejinak2nya monyet tetaplah monyet, trauma sayah 😬.
    Klo emak2 kaya saya ke Semarang, pengennya belanja piring dan gelas di Sango 😂😂😂.

    1. hahahaha beda style ya bu yaaah haha.

      mumpung belum ada yg diurusin kan yak, jalan2 sepuas hati hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *