Drama Alun-Alun Malang

Kami tiba di Surabaya dengan sehat wal’afiat meskipun harus mengalami drama taksi online, saya ceritakan di tulisan sebelumnya disini. Kak Yoeke menampung kami tidur satu malam untuk besoknya berangat ke Malang. Pagi-pagi kami berangkat ke Stasiun Surabaya Gubeng untuk beli tiket ke Malang. Ini adalah kali pertama saya naik kereta dari Surabaya. Setelah turun dari taksi online, kami melihat antrian sangat panjang hingga ke depan stasiun. Eh masa sih antriannya segini. Kami ikut antri, sementara saya masih susah percaya sepagi ini dan bukan weekend rasanya kok aneh saja kalau antri sepanjang ini. Akhirnya karena kami bertiga, saya menyuruh Pika dan Pio mengantri sementara saya masuk ke stasiun bertanya kepada petugas.

Anyway setiap bepergian apalagi sendiri. Saya membiasakan diri bertanya. Di Bandara saya sering bertanya ke petugas kalau sedang bingung. Pokoknya setiap insting ragu-ragu muncul, saya langsung bertanya ke siapapun. Termasuk pernah saat mau ke Bandung, kena delay dua jam lalu setelahnya tidak ada informasi saya bertanya ke satu atau dua orang di dekat saya. Apa kita menumpang pesawat yang sama?. Saya menghindari kejadian ketinggalan pesawat karena salah mendengar pengumuman atau tidak sengaja tertidur. Jadi selalu merasa lebih tenang saat ragu dan bertanya langsung.

Cuma Mampir Semalam di Surabaya, Bye Surabaya

Kita balik lagi ke Stasiun Gubeng. Pak, boleh tahu informasi kereta ke Malang?. Bapak-bapak yang berjaga di balik bilik petugas menerangkan saya jadwal keberangkatan dan cara membeli tiket. Oh jadi bisa langsung beli tiket di situ yah pak?. Saya menunjuk 3 counter CS yang kosong antriannya. Lah ternyata orang-orang yang antri ini adalah penumpang yang akan membeli tiket pulang-pergi sekaligus. Kok antri panjang kayak urusan putus nyambung? Iya, karena tiket pulang-pergi harganya jauh lebih murah dan terbatas setiap harinya.

Demikian penjelasan Mas CS yang murah senyum tadi. Langsung deh saya lari-lari keluar menarik Pio dan pika yang sudah cemas antri. Kami masuk dan membeli tiket. Yeay, tiket sudah di tangan. Kami akan naik KA Penataran berangkat pukul 11.36 WIB dan diperkirakan tiba pukul 14.22 WIB di stasiun Malang. Harga tiketnya Rp. 12.000 per orang. Sambil menunggu kereta berangkat yang masih beberapa jam lagi, kami bertiga makan soto dan Pecel di samping stasiun. Soto di Surabaya ini mengenyangkan karena dicampur nasi langsung.

Pecel yang Taugenya Mentah hihi

Nah jadi harusnya kami turun di stasiun Blimbing Malang, stasiun terdekat dari tempat akan menginap. Tapi dasar, saya lupa menghubungi yang punya rumah, tempat kami akan menginap. Saya mengirim pesan kepada empunya rumah tapi belum ada jawaban. Yah, salah kami juga sih tidak mengabari sebelum berangkat.

Kemudian bingung, ini kita mau kemana dulu yah sambil menunggu pesan dibalas. Akhirnya gugling sana sini scroll kiri kanan maps kota Malang. Ah saya baru ingat, kami ada janji dengan seorang teman di sini. Karena kelihatannya rumah teman saya dan tempat kami akan menginap lumayan jauh jadi saya mengusulkan untuk ketemu dulu bareng teman itu. Kan soalnya kita padat kalau besok-besok (Gaya bener).

Sudah hubungi teman, belum dibalas juga. Terancam lah kami terlantar (hahaha). Tapi jadinya inisiatif sendiri turun di stasiun Kota Baru soalnya kelihatannya lebih dekat dari tempat teman kami tinggal. Kalau kata quote-quote traveller Lets get lost. Nah akhirnya tiba di stasiun, Kami berencana begini. Kita cari alun-alun kalau bisa yang ada masjid biar bisa sekalian shalat dan bersih-bersih. Akhirnya kami pesan taksi online tanpa tahu ternyata kondisinya sama dengan di Bandara Surabaya. Angkutan online tidak boleh mengambil penumpang di public place seperti stasiun.

Jalan Kaki ke Indomaret

Tapi ya pesanannya terlanjur sudah diterima sama driver. Jadinya kami diminta jalan sama Mas driver ke Indomaret arah barat stasiun. Ampun deh saya kalau di Jawa trus bertanya soal arah, ampuun. Ternyata gaes, Indomaret yang dimaksud lumayaaan jauh. Tapi kami pasrah soalnya Mas driver katanya takut digebukin kalau jemput dekat stasiun. Padahal tahu begitu kan kita mending jalan ke alun-alun depan stasiun. Cuma tadi mikirnya begini Pesan Ojol mi di’ biar nda perlu jalan, kita ke alun-alun yang ini saja di’ biar naik ojol gratis, pake kode promo gaes hahaha. Tapi tapi malah jalan kaki dengan beban di bahu dan perasaan capek setelah duduk lama. Makan tuh lets get lost wahahahaa.

Masih sambil jalan menuju indomaret, saya dikirimi pesan oleh driver Mba, nanti langsung aja masuk mobil yah kayak saya lagi jemput kerabat, di sini soalnya banyak ojek. Saya langsung beritahu Pika dan Pio untuk terlibat di drama pura-pura yang Mas Driver susun. Inget platnya segini, warna mobil silver. Kami langsung bahagia ketemu plang biru bertulis indomaret.

Mas driver kirim pesan lagi Mba saya masuk beli minum yah, langsung naik mobil aja. Setelah sampai, kami bertiga langsung naik menyandarkan tas sambil kipas-kipas kegerahan dan capek. Kak tari turunka dulu beli air, mau titip?. Pio inisiatif beli air karena kehausan, saya menoleh ke pintu toko melihat Mas driver keluar menenteng air. Atau teriak meko minta dibelikan sama Mas, kan kita seolah keluarga toh. Pio langsung ngacir keluar, tidak berselera bercanda. Mungkin doi lelah berpura-pura. Hahaha

Tapi yah namanya juga jodoh. Kita naik taksi online ke alun-alun Malang. Alun-alun yang sebelahan masjid (alhamdulillah). Padahal ada alun-alun depan stasiun kalo cuma buat leyeh-leyeh menunggu. Tapi ya namanya juga jodoh, setelah duduk santai di alun-alun. Teman yang tadi bikin janji batal ketemu. Ternyata hikmahnya adalah tante tempat kami akan menginap kantornya pas di samping alun-alun. Cuma jalan sedikit sampailah kami. Akhirnya setelah salim, kenalan, kami diajak pulang bareng. Tanpa harus drama cari alamat lagi.

Leyeh-leyeh di Alun-Alun Malang

I would like to say terima kasih banget banget kepada Ima dan keluarga. Terima kasih mengizinkan tiga perempuan lets get lost ini untuk menginap, numpang makan dan diajak jalan-jalan segala. Yeay, di Malang ada apaan sik? Kita mau kemana? Bentar kita sambung di tulisan selanjutnya gaes yah.

Suasana Alun-Alun Malang
Masjid Samping Alun-Alun Malang

10 thoughts on “Drama Alun-Alun Malang

  1. Aaaaakh MALAAAAANG 🙁

    Aku kok ingin sekali ke Malang yaaaa :’ ada planning mau motoran sama teman-teman ke Malang sih, tapi nda tau kapan :’

    kasihan motor sama pantatnya juga 🙁

    1. Wih seru banget motoran keluar kotaa.. Malang itu enak banget buat muter2 keliling. Naik motor ajaaa *ngomporin*

    1. Kayak nikmat banget gitu kan hidup.. Segini aja yg diceritain sik, kehidupan setelah liburan gag usah 🙈🙈

  2. Itu tas nya nggak kurang gede?? Ckckck para wanita lets get lost ini ternyata wanita2 tegar dan kuat ya. Gendong tas segede gitu jalan jauh ke indomaret 👍. *eh kenapa dengan bertanya arah di jawa? Lost in translation ya 😬✌️

    1. Hahaha itu tasnya gatau isinya apaan aja gede gitu.. Kalau di jawa nanya arah suka dijawab utara barat selatan aku gak ngerti arah gituaaaan 😂😂😂

    1. Udah beberapa bulan lalu inii lanjalannya hahaha. Kata orang sana udah banyak banget yang berubah. Kesana lagi ayokk

  3. Weew inimi yg disuruhka baca? Hehehe

    Terimakasih juga buat ucapan trimakasihnyaa haha
    Jangan bosan ke malang ! 😊😊😊

    Tapi #cmiiw yg disebut alun2 malang cuman satu, ya yg difoto ituu, jadi pusat kotanyaa, sama ada ding dpan kantor walikota yg ada tugunya.. kalo dpan stasiun bukan alun2 tapi taman.. hahahaha penting bingitss yey

    1. Wahahaha gitu yah,aku bisa apa kalau orang Malang yang ngomong aku iya iya aja.. Apalagi aku pernah ditampung gitukan hahaha. Makanya cari2 di gugel tidak ketemu jawaban soal alun2 yasudaaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *