Sastra, masyarakat dan 5 Sastrawan

Sastra merupakan penggambaran kehidupan yang dituangkan melalui media tulisan. Terdapat hubungan yang erat antara sastra dan kehidupan, karena fungsi sosial sastra adalah bagaimana ia melibatkan dirinya ditengah-tengah kehidupan masyarakat (Semi, 1989:56).

Sastra dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Berbagai teori tentang sastra dan masyarakat dikemukakan oleh kritikus, sastrawan dan pakar-pakar lainnya. Teori tersebut diberi nama pendekatan sosiologi sastra. Sebagai sebuah pendekatan yang menjembatani sebuah penelitian tentang sastra, sosisologi sastra membuktikan bahwa sastra bukan hanya sebagai hasil pemikiran seseorang sebagai bagian dari masyarakat namun juga sebagai sebuah cermin masyarakat.
Meminjam teori Swingewood, sastra merupakan cermin retak. karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Namun karena cermin tersebut retak, retakannya bisa seluruh atau sebagian, ke depan atau ke belakang. Karya sastra sebagai cermin masyarakat bisa merupakan gambaran utuh atau sebagian, pun penggambarannya bisajadi untuk masa depan atau untuk masa yang telah lalu.
Mari kita tinggalkan sejenak serangkaian teori sosiologi sastra di atas. Pengarang sebagai objek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya kepada objek kolektifnya. Penggabungan objek individual terhadap realitas sosial yang ada di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur masyarakat tertentu, ini juga sebenarnya merupakan teori dari Pradopo. Namun, sejauh mana dan bagaimana sastra menjadi gambaran dari sebuah masyarakat bisa dilihat dalam 5 “bahaya” sastra dari 5 sastrawan berikut
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih akrab disapa Pram adalah salah satu sastrawan besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing. Karya Pram yang penuh dengan kritik sosial membuatnya sering keluar masuk penjara. Pram pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa orde lama. Kemudian selama orde baru ia ditahan selama 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
Beberapa karya Pram dilarang untuk dipublikasikan karena dianggap mengganggu keananan negara pada masa pemerintahan Presiden Soekarno maupun Soeharto. Misalnya pada tahun 1960-an, ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-komunis Tiongkoknya. Bukunya yang berjudul Hoakiau di Indonesia dicabut dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia. Meskipun demikian, Pram mendapatkan banyak penghargaan dari lembaga-lembaga di luar negeri. Potret kehidupan Pram yang dibenci di negeri sendiri tetapi dihargai dunia membuatnya tetap optimis dan tidak pernah berhenti berkarya.
Wiji Thukul
tanggal 30 Agustus merupakan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional. Peringatan ini ditujukan untuk mengingatkan publik akan nasib orang-orang yang ditahan dan dihilangkan secara paksa. Wiji thukul, salah satu aktivis yang hilang menjelang reformasi 1998. Widji Thukul adalah sastrawan dan aktivis HAM yang tak hanya berpuisi namun juga gencar mengorganisir buruh dan petani. Ia juga aktif berorganisasi.
Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang, termasuk Wiji Thukul. Namun, belasan tahun setelah dinyatakan hilang, suara Thukul justru semakin bergaung. Puisi-puisinya semakin berkibar. Bertebaran di media sosial. Dibacakan di banyak panggung. Ditafsir dan didiskusikan dalam berbagai forum. Anak-anak muda membaca kembali sajak-sajaknya, digenapi dengan musikalisasi. Mereka juga membuat film-film pendek tentang sosok Thukul. Trio folk Dialog Dini Hari melantunkan salah satu puisi Thukul: Ucapkan Kata-Katamu. Kelompok musik Musikimia menyisipkan dua puisi Sajak Suara dan Peringatan dalam lagunya. Tak lupa, puisi Bunga dan Tembok yang dinyanyikan oleh Fajar Merah, putra bungsu Thukul.
Po Chu I
Po Chu-i (772-846) adalah seorang penyair Cina terkenal karena balada dan puisi satir. Dia berpandangan bahwa puisi yang baik harus mudah dipahami oleh masyarakat umum dan dicontohkan dalam puisi terkenal karena diksi sederhana, gaya alami, dan konten sosial. Sebagai salah seorang penyair besar Cina Klasik, Po Chu-I Pernah menjadi pegawai Kekaisaran Cina, namun beberapa kali ia pernah diasingkan dari negerinya karena terang-terangan mengkritik kebijakan penguasa di masanya.

Selama tahun-tahun ini di ibukota, Po Chu-i menulis beberapa puisi yang paling terkenal, seperti Balada Everlasting Kesedihan, Lagu dari Tanah Ch’in (Ch’ang-distrik), dan Biro Baru Musik puisi. Dua kelompok terakhir dari puisi, sebanyak 60 buah, yang lagu-lagu rakyat imitasi di mana ia menyerang militerisme, draft, pajak yang berat, pemborosan pengadilan, pelanggaran resmi, dan penindasan. Salah satu duri penyair diarahkan pada para kasim kuat, yang tidak hanya dimangsa orang-orang tetapi merebut kekuasaan dalam pemerintahan.
Po Chu-i menjadi korban intrik politik dan dibuang dari ibukota. Ia menghabiskan waktunya mengunjungi tempat indah dan menulis puisi, termasuk Balada terkenal dari Lute. Sementara di Chiang-chou, ia membuat koleksi pertama puisinya, yang berjumlah sekitar 800 buah pada waktu itu. Dia juga menguraikan kredo sastra dalam sebuah surat kepada Yuan Chen: “Sastra harus ditulis untuk melayani satu generasi sendiri, dan puisi dan lagu untuk mempengaruhi urusan publik.
Kamo No Chomei
Kamo No Chomei (1155?-1216) adalah penulis syair waka dan petapa Jepang. Jenuh oleh kedudukan dalam istana, ia memutuskan mengabaikan kehidupan duniawi dan meninggalkan ibu kota kekaisaran. Namun demikian, dalam kesendiriannya ia terus menulis dan membaca sajak-sajak. Pada masa akhir hidupnya ia menulis esai tentang sajak, Mumyosho. meskipun telah memahami doktrin ilusi dan kehampaan dalam ajaran Budha, Kamo No Chomei tetap tak dapat menahan diri untuk menulis sajak-sajak.
Jalaluddin Rumi
Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi, Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio. Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.

Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.
Dalam tradisi Islam, Maulana Jalaluddin Rumi juga mengakui bahwa sebenarnya ia tidak begitu menghargai sajak-sajak. Namun ketika keadaan ekstasi mistis meliputinya, ia akan menari berputar-putar sembari membacakan sajak-sajaknya, yang dicatat oleh para muridnya. Ulama besar ini mewariskan kepada dunia, antara lain, dua kumpulan sajak Matsnawi (isinya 26.000 sajak) dan Diwan (terdiri dari lebih 35.000 bait sajak).
Karya sastra selain sebagai cermin masyarakat, juga merupakan cerminan zaman. Karya sastra yang juga tidak terlepas dari pengarangnya membuktikan bahwa Sastra kadang menjadi lebih memperdaya dari wanita, harta dan tahta. Bukan hanya untuk pemilik karya-karya tersebut, namun bahkan para penikmat karya sastra, termasuk penulis sendiri XD

Sumber
Wikipedia
www.dw.com
bukunyanyian.blogspot.co.id
www.encyclopedia.com/people

 

Tulisan diikutkan dalam #tantangan5 #KMkepo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *