Sugeng Rawuh, Solo.

Saya musti gugling dulu buat menentukan judul di atas, semoga penggunannya benar yah haha. Saya mah baper banget kalau bahas soal kota Solo. Sejak dulu, Solo adalah salah satu kota yang pengen saya jadikan domisili. Pertama kali ke Solo pada tahun 2010 saya suka sekali dengan suasana dan orang-orangnya. Pokoknya bikin betah buat tinggal lama-lama. Tapi ya mau dikatakan apa lagi kita tak akan pernah satu wahahahaa. Karena ini hanyalah jalan-jalan semata, jadi saya bisanya mampir-mampir. Mampir di Surabaya, mampir dan jalan-jalan di Malang. Kali ini karena Solo lumayan dekat dengan Jogja, jadi kami eh bukan kami ding, tepatnya saya mengajak Pika dan Pio sekalian mampir ke Solo.

Awalnya mereka berdua pada sangsi. Kita mau nginap di mana kak? Di Solo emang ada apaan? Kita bertiga tidak punya kenalan di Solo buat numpang tidur segala macam. Pika dan Pio malah baru kali ini ke Solo. Dan saya?ย I have no idea kita bertiga mau ke mana selama di Solo. Tapi kan kadang gitu yah, mau kemana makan apa nanti sajalah. Asal sampai ke tujuan dulu, betul gak? Nggak yah hahaha.

kami menempuh perjalanan selama 6 jam dari Stasiun Kota Baru Malang dengan tujuan Stasiun Solo Balapan. Tiket kereta api yang available hanya pada pukul 08.00 Wib. Harga tiketnya Rp.165.000 per orang. Ini merupakan rekor terlama saya naik kereta api. Untungnya, Ibu teman saya Ima menyiapkan kami bekal untuk dimakan selama perjalanan. Terima kasih (lagi) Tante. Ah iya, sekadar tips buat yang akan menempuh perjalanan jauh naik kereta begini, jangan lupa sedia jaket. Soalnya suhu di dalam kereta kadang jadi dingin sekali, bergantung jumlah penumpang dan lokasi duduk. Tapi pokoknya biasanya akan dingin kalau perjalanan jauh.

Stasiun Solo Balapan

Kami tiba di stasiun Solo Balapan pukul 14.00 wib. Duduk sebentar di beranda stasiun melepas lelah berjalan keluar sambil bopoh ransel. Kami tiba disambut gerimis, suasananya jadi adem sekali. Sambil duduk, saya memerika telepon genggam. Jadi, kami memesan penginapan di sekitar Solo Balapan. Selain biayanya yang murah, kami juga hanya berencana sehari dan antisipasi agar tidak terlambat ke stasiun. Masih sambil gerimis, kami jalan kaki sesuai arahan maps menuju penginapan. Untungnya tidak harus drama nyasar dan lain lain, kami tiba di Penginapan namanya Hotel Djayakarta.

Pika lagi OOTD Depan penginapan, Hotel Djayakarta

Hotel Djayakarta ini pilihan yang bagus buat backpacker. Selain lokasinya yang strategis, harga menginapnya juga lumayan oke. Kami membayar Rp.100.000 untuk ruangan yang lumayan besar dengan dua kasur, satu kasur besar dan satu lagi kasur kecil. Pokoknya cocok buat backpacker, kamar mandinya luas, gaya penginapannya mirip rumah belanda jaman dulu, Trus kita disediakan teh setiap sore. Tapi yah anak dua ini ngelarang saya minum, mereka berdua asli suka parno macem-macem. Setelah istirahat sebentar, kami mulai prepare untuk keluar mencari kehidupan, eh cari makan ding.

Depan Kamar Hotel Djayakarta
Tampak Dalam Penginapan Djayakarta dan Tampak Dalam Isi Tas kami Bertiga

Wah.. saya belum cerita yang satu ini. Urusan makan kami bertiga asli ribet. Pika ini alergi msg atauย Monosodium Glutamate. Kalau orang lain biasanya menghindari konsumsi MSG agar sehat, tubuh si Pika ini tanpa diminta sudah menolak dengan tegas segala jenis makanan yang mengandung MSG. Emang ada makanan enak gak pakai MSG? huhuhu. Jadi selama kami trip, kalau mau makan di suatu tempat musti tanya-tanya dulu makanannya pakai MSG atau tidak. Dan mostly menjawab yaiyalah pake hahaha. Ada dua jenis makanan yang menyelamatkan Pika selama kami trip, gado-gado dan pecel. Itu juga musti tanya dulu, serius gak pakai msg mbak? gak pakai micin kan? Dengan muka Pika ala-ala tidak makan dua hari.

Lain Pika lain lagi Pio. kalau Pika memang alergi, kalau Pio ini tipikal pemilih akut. Mau makan musti lihat dulu ke dalam jualan apa saja, kira-kira kemanisan atau nggak, baunya bagaimana, HAHAHA. Pernah kami mau makan di pasar, dia harus mutar-mutar dulu kami menunggu depan Pasar cuma buat nunggu dia selesai pilih-pilih warung abis itu baru kita bertiga masuk. Pindah tempat makan dua sampai tiga kali sudah biasa. Asal semuanya makan dan sehat-sehat yo wes everythings alright. Kalau saya mah, makan apa saja asal murah wkwkwk.

Sugeng Rawuh
Vintage everywhere
Pio Sedang Mempraktikkan Ilmu Magisnya
Benda Pusaka di Pasar Triwindu

Di Solo kami mengunjungi Pasar Triwindu. Pasar yang mendisplay barang-barang antik dan pusaka. Saya suka banget sama tempatnya, suasananya dan trotoar-trotoar Solo itu kenapa bagus banget sik. Selain Pasar Triwindu, kami juga ke Alun-Alun Solo. Traveller alun-alun mode on. Selesai jalan-jalan sekitar Kota Solo kami balik ke penginapan buat istirahat. Besoknya, saya ketemu sama seorang teman di sini dulu sebelum kami beli tiket buat ke Jogja. Solo-Jogja, kami naik kereta api Prameks harga tiketnya Rp. 8000. Bye Solo kota yang bikin baper, sampai ketemu lagi.

OOTD di Depan Pasar
Selfie Sebelum Say Goodbye Kepada Solo

6 thoughts on “Sugeng Rawuh, Solo.

  1. Astaga lucunya dua temanmu itu. Susah diajak wisata kuliner. Hehe. Tapi cerita seru seperti itu yang kadang lebih tinggal di memori dari pada rasa makanannya.

  2. Asyiknya jalan2 ke tempat yang belum pernah didatangin sebelumnya pasti gak bakal terlupakan ๐Ÿ˜Š

    Blogger MAM sepertinya sudah harus ada agenda jalan-jalan bareng juga nih ๐Ÿ˜‰

    1. Beneer sekali.. selalu menyenangkan kalo jalan2 apalagi kalo rame2, boleh lah kita agendakan~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *