Tentang Pulang Setiap Awal Ramadhan

Tadinya saya sangsi akan pulang puasa pertama di Rumah, di Pinrang. Seperti ritual tiap tahun, saya harus pulang ke Rumah untuk niat puasa pertama. Begitu setiap tahun. Tahun ini ada banyak hal yang harus saya selesaikan mendekati ramadhan, tapi diluar perkiraan saya semuanya selesai hari kamis dua hari menjelang ramadhan.

Tiba-tiba saya dihubungi, seorang teman diajak naik gunung. Galaulah saya antara mau pulang atau naik gunung, pulangnya sabtu yang artinya tidak bertemu niat pertama di Rumah. Tapi akhirnya saya memilih pulang, dengan tas ransel kecil saya diantar Kak Tami ke terminal Daya.

Sebagian besar penumpang yang ingin ke Pare-pare, Sidrap, Pangkep dan Polman berangkat dari Terminal Regional Daya. Setiap tahun menjelang ramadhan pertama, saya naik bus dari sini menempuh 4 jam perjalanan hingga tiba di Pinrang kota kelahiran saya. Sering saya ditanya

Kok masih naik bus? Kan lebih enak naik panter atau mobil yg lebih enak lah pokoknya.

Percayalah naik bus memang kurang membuat nyaman. Tapi saya suka. Bus yang saya tumpangi namanya Bus Paijo, bus yang sudah tua dan terdengar berisik ketika melintas. Tapi bus ini adalah bus yang mengantarkan saya bolak balik Makassar-Pinrang sejak 5 tahun silam. Bus ini selalu membuat saya merasa benar-benar pulang.

Bus Paijo beroperasi 3 kali sehari. Pagi pukul 07.00 wita menuju Makassar, siang pukul 13.00 wita menuju Pinrang dan malam pukul 17.00 menuju Makassar. Bus dengan tujuan akhir Kecamatan Duampanua ini jadi pilihan banyak orang. Kenapa? karena bus ini akan menjemput dan mengantar penumpang dari dan hingga lorong sejauh apapun selama masih muat untuk bus melintas. Harga yang diberikan juga sangat murah, 5 tahun lalu harganya masih Rp. 30.000, 2 tahun lalu harganya naik menjadi Rp. 35.000 dan tahun ini saya membayar Rp. 40.000.

Saya hanya akan naik bus kalau berangkat sendiri. Ibu dan adik saya sudah tidak nyaman menumpang bus. Jadi saya benar-benar menikmati bepergian sendirian. Sensasi menunggu busnya, lari-lari mencari tempat duduk, berdesakan dengan banyak penumpang hingga melihat penumpang diantar satu persatu. Semuanya sangat menyenangkan. Waktu tempuh 4 jam bisa mencapai 8 jam jika naik bus ini. Bayangkan, bus dengan kapasitas 25 orang ini harus mengantar satu persatu penumpangnya. Saya selalu menjadi penumpang terakhir sebab rumah saya paling dekat dengan rumah pemilik bus ini.

Saya melamun memikirkan kenangan selama 5 tahun naik bus ini. Tiba- tiba busnya bergoyang, saya berbalik mendapati dua kernet bus dengan santainya menaikkan motor matic ke badan belakang bus. saya ber wow ria sambil tertawa. Setiap pulang naik bus saya merasa 5 tahun itu seperi lebaran tahun lalu. Ibu-ibu yang berjualan di terminal ibu yang sama dengan 5 tahun lalu, penjaga toiletnya juga masih sama dan orang-orang yang hilir mudik menawari buah serta minuman terlihat itu itu saja.

Di perjalanan pulang, saya ditelpon ibu yang memastikan saya benar-benar akan pulang. Di rumah, sedang ramai ibu menyiapkan makanan untuk mabbaca, tradisi tahunan membacakan doa untuk makanan sebelum ramadhan. Saya tiba pukul 19.00 wita, 6 jam perjalanan. Etta menunggu di meja makan sambil memeriksa ponsel, belum makan sejak sore menunggu anak perempuannya untuk makan bersama. Yes, saya pulang.

Bus Paijo Kala Masih Strong ahaha

8 thoughts on “Tentang Pulang Setiap Awal Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *